Minggu malam itu habis diner, aku sama Henri leyeh-leyeh di ruang tamu. Tiba-tiba telpon berbunyi, suami liat di nummer melding, terus bilang itu pasti telpon untuk kamu Dy, cari alasan padahal males nerima telpon. Kuambil gagang telpon, kemudian, terdengar percakapanku dengan si penelpon.
Aku: Hallo, met Dyah.
Si penelp : Ops, ik denk ik heb het verkeerde nummer gedraaid. (Saya rasa saya salah pejet nomer)
Si penelp: Sorry, Doei.
Aku: Geeft niet, doei.
Itu salah sambung kataku pada Henri, sambil aku tambahin, "ia belum bilang salam halo",lalu kudengar ," lhoh kok suara buitenlander" buitenlander=immigrant. Henri langsung bilang dengan nada tinggi "ia bilang gitu"?, sambil mau ambil gagang telpon. Oeps ia pasti mau nelpon balik si penelpon. Cepat-cepat aku bilang, gak orangnya gak bilang gitu, ia bilang kayak gitu dalam hati kok.
Biasanya sih begitu, setiap ada telpon, dan aku yang nerima telpon, setelah aku bilang salam, setelah si penelpon dengar suaraku pake aksen asing gitu, langsung tahu nomer yang dituju salah sambung. he...he..